Tradisi Memohon Hujan dengan Upacara Cahe

Desa Langsar pernah dikenal memiliki musim kemarau panjang yang cukup menyiksa warga. Untu itu berbagai hal dilakukan agar hujan segera turun. Mulai dari cara syar’i seperti salat istisqo sampai ritual-ritual kuno berbau mistis seperti yang kerap mereka sebut sebagai upacara cahe di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

Upacara cahe adalah sebuah upaca meminta hujan yang dilakukan di Gua Mandalia, Dea Langsar. Adapun yang menghadiri upacara tersebut ialah para warga yang telah siap membawa beragam sesajen berupa buah-buahan, nasi dan lain sebagainya. Namun tidak semua warga yang menghadiri acara tersebut diijinkan memasuki kawasan dalam dua. Hanya beberapa orang khusus yang telah mengenaikan pakaian adat yang masuk ke dalam Gua Mandalia. Acara ini dilengkapi denga bunyi gamelan dan suara sinden yang begitu merdu.

Menurut artikel yang dirilis media Jawa Pos Radar Madura, sesajen yang dibawa tadi akan diberikan kepada orang-orang yang berpakaian adat khusus berwarna abu-abu garis putih. Sesajen berupa nasi dan ayam diletakkan didalam gua setelah sebelumnya acara dibuka dengan tarian dan ucapan pujian berupa bahasa Madura. Semua peserta cahe memegang kelapa kuning yang dilengakapi kembang tujuh rupa.


Gua Mandalia dipilih sebagai lokasi upacara karena dipercaya warga bahwa  gua tersebut merupakan tempat persemedian para leluhur Desa Langsar. Dengan begitu, mereka beranggapan bahwa Gua Mandalia adalah gua keramat sehingga cocok dijadikan tempat untuk melaksanakan ritual mistis seperti upacara cahe atau upacara memohon hujan. Upacara Cahe adalah sebagai bentuk doa kepada Tuhan sehingga perlu dilestarikan.

Usai rentetan acara doa dilewati, makanan yang ada didalam gua kemudian dikelurakan lagi untuk dimakan bersama-sama. Mereka memakan sesajen di sekitar gua dengan penuh suka cita.

Sumber gambar: 
http://www.imgrum.org/user/fadelabuaufa/1950891251/1493823862075684301_1950891251

Peringati HUT RI ke-72 dengan Perlombaan

Untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-72 masyarakat Langsar dibantu anggota KKN (Kuliah Kerja Nyata) kelompok 17 mengadakan berbagai perlombaan untuk anak-anak yang ada di Desa Langsar. 

Adapun lomba-lomba yang diadakan meliputi; lomba lari kelereng, lomba makan kerupuk, lomba joget balon, lomba memasukkan benang ke dalam jarum, lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba mencari koin dalam tepung, lomba memukul air dalam keadaan mata tertutup dan lomba mengumandangkan adzan.

Lomba-lomba diatas diikuti dengan penuh sukacita. Perlombaan ini tidak hanya bermanfaat untuk mendukung daya kembang anak seperti melatih sportivitas, intropeksi, menghargai kemenangan, memupuk keberanian, jujur dan disiplin. Namun lebih dari itu, lomba ini diadakan untuk tetap menanamkan rasa cinta tanah air dan mengenang jasa para pahlawan dengan mengikuti perlombaan.

Harapannya semoga kedepan loma-lomba yang diadakan lebih diperkaya dengan lomba lain. Seperti lomba pidato, lomba puisi, lomba menulis cerita anak dan lain sebagainya.

Varietas Srikaya Unggul Berasal dari Langsar


            Tanaman srikaya atau masyarakat biasa menyebut sirkaya maupun nona merupakan tanaman buah tropis yang berasal dari Amerika Serikat. Tanaman buah ini telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia tetapi hanya dibudidayakan dalam skala rumah tangga dengan populasi tanaman yang sedikit. Tanaman buah tropis ini merupakan tanaman tahunan dan sebagai tanaman tingkat tinggi memiliki bagian-bagian tanaman yang lengkap. Tanaman srikaya berbentuk perdu dengan batang berkayu dan memiliki percabangan yang cukup banyak dengan daun berwarna hijau muda serta bunga berwarna kuning keputihan yang muncul dari ketiak daun pada ujung cabang ataupun ranting. Buah tanaman ini memiliki sisik halus berwarna hijau dan setiap sisik tersebut merupakan karpel yang pada tiap karpelnya terdapat satu butir biji. Biji srikaya berbentuk oval berwarna coklat kehitaman, halus, dan keras (Radi, 1997).

Menurut beberapa sumber, tanaman ini selain buahnya yang dapat dikonsumsi sebagai buah segar, dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan selai, sirup, dan makanan olahan lain. M anfaat-manfaat lainnya dari tanaman ini adalah sebagai tanaman pelindung di depan rumah, tanaman pagar, buahnya dijadikan pembuatan minuman asam, sirup, sari buah, dan sejak lama juga telah digunakan sebagai obat tradisional. Bijinya yang digiling halus dapat digunakan untuk membunuh kutu kepala, bagian akar digunakan untuk mengobati penyakit kulit, ekstrak daun serta tumbukan biji ya ng halus digunakan untuk memandikan anjing agar tehindar dari kutu atau binatang kecil lain yang merugikan.


Berdasarkan keputusan menteri pertanian nomor: 272/kpts/sr.120/7/2005 tentang pelepasan srikaya langsar sebagai varietas unggul sehingga menimbang bahwa dalam rangka meningkatkan produksi srikaya, varietas unggul mempunyai peranan penting; bahwa srikaya Langsar memiliki keunggulan produksi tinggi, ukuran buah besar, aroma agak harum, daging buah tebal dengan tekstur lunak, tidak lembek dan rasa manis. Selain itu, berdasarkan beberapa  hal tersebut dipandang perlu untuk melepas srikaya Langsar sebagai varietas unggul. Untuk itulah, potensi yang ada di Langsar ini perlu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik.





Masyarakat Langsar Lestarikan Budaya Karapan Sapi


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari beberapa unsur seperti agama, politik, tradisi/adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Oleh karenanya, budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. 

Salah satu budaya yang dimiliki masyarakat di pulau Madura adalah tradisi karapan sapi. Karapan sapi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perlombaan pacuan yang berasal dari Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan memgendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sejauh kisaran 100 meter. 

Pada umumnya, beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi setiap tahun pada bulan Agustus dan September seperti yang dilakukan hari ini (8/8/2017) di Desa Langsar, Saronggi, Sumenep. Perlombaan ini dilakukan untuk memeriahkan HUT (Hari Ulang Tahun) RI ke-72. Tempatnya di sebuah lahan kering kosong yang tidak jauh dari kediaman Kades Langsar.

Peserta karapan sapi tidak hanya berasal dari Desa Langsar, namun juga desa-desa tetangga. Begitu pula penonton yang ikut menghadiri acara ini. Acara tersebut dimulai dengan kontes sapi sono’ yang diiringi dengan kesenian tradisional, yakni saronen. Masyarakat begitu antusias menyaksikan kemeriahan acara yang telah membudaya itu dilihat dari banyaknya penonton yang hadir. Ini berarti besarnya antusiasme masyarakat Langsar—khususnya—untuk melestarikan budaya karapan sapi yang tidak bisa dipisahkan dari Madura.

Kesenian Saronen Masyarakat Madura


Saronen adalah musik Rakyat yang tumbuh berkembang di masyarakat Madura. Harmonisasi yang dinamis, rancak, dan bertema keriangan dari bunyi yang dihasilkannya memang dipadukan dengan karakteristik dan identitas masyarakat Madura yang tegas, polos, dan sangat terbuka mengilhami penciptanya . Saronen berasal dari bahasa Madura " sennenan " yang berarti Hari Senin.

Kesenian Saronen bermula dari sering berkunjunganya penguasa Sumenep Arya Panoleh ke tempat kakaknya Batara Katong yang berkuasa di Ponorogo untuk bersilaturahmi. Saat di ponorogo, rombongan dari sumenep di sambut dengan persembahan reyog dan atraksi memukau yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian hitam. Dari sinilah awal mulanya Selompret pada gamelan reyog dikenal oleh rombongan sumenep dengan nama Saronen.

Selain gamelan reyog yang di terapkan di Sumenep, juga pakaian warok serba hitam dengan kaos bergaris-garis, makanan seperti Sate yang awalnya dari tusuk lidi dan angklung yang hanya dapat di temukan di sumenep saja di s
eluruh dataran madura. Dengan begitu, Sumenep yang merupakan kiblat orang madura, budaya dari ponorogo yang di terapkan di sumunep mulai menyebar ke seluruh madura. Tetapi bagaimanapun juga setelah di terapkan di madura, masih terdapat perbedaan anatara budaya dari tanah budaya Ponorogo dengan budaya madura.

Seorang Kyai Khatib Sendang ( cicit Sunan Kudus ) bertempat tinggal di Desa Sendang Kecamatan Pragaan ratusan tahun silam menggunakan musik ini sebagai media dakwah dalam mensyiarkan Agama Islam. Konon setiap hari pasaran yang jatuh pada setiap hari senin , Kyai Khatib Sendang dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar disertai penari berpakaian ala badut. Setelah para pengunjung pasar pada berkumpul , mulailah Kyai Khatib Sendang berdakwah memberi pemaparan tentang Islam dan kritik sosial. Gaya dakwah yang kocak humoris tetapi mampu menggetarkan hati pengujung membuat masyarakat yang hadir tertarik langsung minta baiat masuk Islam.

Ciri khas musik saronen ini terdiri dari sembilan instrumen yang sangat khas, karena disesuaikan dengan nilai filosofis Islam yang merupakan kepanjangan tangan dari kalimat pembuka Alqur'anul Karim yaitu " Bismillahirrahmanirrahim " yang kalau dilafalkan terdiri dari sembilan keccab. Kesembilan instrumen musik Saronen ini terdiri dari : 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik ( gendang kecil ).

Hal yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan . Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis , menambah kejantanan dan kegagahan peniupnya. Alat tiup yg mengerucut ini berasal dari Timur Tengah yang dimodifikasi bunyinya. Pada perhelatan selanjutnya musik saronen ini dipakai untuk mengiringi lomba kerapan sapi, kontes sapi sono', upacara ritual, resepsi pernikahan, kuda serek ( kencak ) dll.

Saronen mengiringi kontes sapi sono’ dan lomba kerapan sapi yang ada di Langsar pada 8 Agustus 2017. Acara tersebut dilakukan demi memmperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 72. Para warga dari berbagai desa yang ada di Kabupaten Sumenep sangat antusias menyaksikan acara tersebut dilihat dari jumlah penonton yang membludak memenuhi lahan tegal kering tak jauh dari balai desa Langsar.

Sumber teks: https://id.wikipedia.org/wiki/Saronen

Berani Bertani


Pada Minggu, 23 Juli 207 kami berbincang-bincang dengan seorang tokoh masyarakat. Ialah Tabarani, seorang lulusan prodi Sastra Inggris yang akhirnya berani bertani. Beliau melakukan pola pertanian terintegrasi dan tumpang sari. Di dua petak lahan yang cukup luas, ia mengusahakan berbagai tanaman. Seperti cabai merah besar, cabai rawit, daun bawang, kacang tanah dan srikaya.

Ini adalah sebuah langkah berani yang diambil Tabarani mengingat di Langsar sangat sulit mendapatkan air bersih karena tidak ada sumber air maupun sumur. Kendala ini tidak menjadikan Tabarani berhenti meneruskan mimpinya; bermafaat bagi masyarakat Langsar. Karena dengan bertani, Tabarani dapat memperoleh keuntungan usaha dalam bidang pertanian secara profit-benefit dan keterlibatan masyarakat luas. Selai  itu, beliau telah menciptakan lapangan pekerjaan dalam bidang pertanian  dan membangun minat generasi muda dalam aktivitas kewirausahaan sosial. Tabarani juga memberikan pemahaman kepada khalayak umum tentang konsep pemanfaatan lahan tidur.

Berani bertani adalah hal yang perlu digarisbawahi mengingat Negara Indonesia adalah Negara agraris. Selain itu, langkah yang diambil Tabarani diharapkan mampu mengingatkan para pemuda Indonesia yang selama ini gengsi untuk bertani sekaligus berwirausaha. Karena dengan keduanya, tidak hanya Tabarani dan masyarakat Langsar yang akan diuntungkan. Melainkan perekonomian Negara juga akan bertumbuh karena kemandirian yang dilakukan masyarakat yang bertani sekaligus berwirausaha.

Tabarani memang bukan pelopor bertani dengan pola pertanian terintegrasi di Langsar. Ada seorang lelaki paruh baya, ialah Pak Dar yang telah lebih dulu memprakarsai kegiatan tersebut. Tanaman yang dibudiyakan Pak Dar hampir tidak terhitung. Di sekitar rumah beliau memang akan sulit kita temui lahan tidur karena hamper semua sisi dimanfaatkan sebaik mungkin. Inilah yang pada akhirnya mengispirasi banyak warga yang ada di Langsar, salah satunya seorang pemuda bernama Tabarani.