Sejarah Goa Mandalia Desa Langsar


  Goa Kandalia memang tidak sepopuler goa-goa lain di Sumenep seperti goa Payudan yang konon menjadi tempat pertapaan Potre Koneng dalam legenda masyarakat Sumenep.

  Namun demikian, bagi masyarakat Desa Langsar, Kecamatan Saronggi Sumenep, goa Kandalia mempunyai arti tersendiri, karena goa tersebut, menurut cerita, konon pada jaman dulu, hidup dua orang kakak beradik, yaitu Agung Marju sebagai saudara tertua, dan adiknya Agung Kemuning.

  Kedua bersaudara itu sama-sama suka melakukan semedi di tempat-tempat keramat, yang kemudian dalam pertapaannya di goa yang kemudian disebut Kandalia itu, seusai melakukan semedi keduanya terlibat perbincangan, yang pada intinya ingin menguji ilmu-ilmu yang diperoleh setelah bersemedi.
Dalam perbincangan, sang adik kurang setuju dari keinginan kakaknya, Agung Marju, karena menurut adiknya ilmu yang sama-sama mereka dapat harus diabdikan kepada masyarakat.


  Pada akhirnya, konon menurut cerita, karena keinginan bersaudara itu berseberangan, maka pada akhirnya disepekati mereka berdua meneruskan perjalanan yang beda, sang kakak meneruskan ke arah Pinggir Papas (kemudian menjadi nama desa), dan sang adik menuju ke arah Pagar Batu (juga kini menjadi nama desa), dengan persyarakatan, dalam melakukan perjalananannya sang adik harus menggunakan titian tali dan sang kakak harus menggunakan rumput lalang (ilalang) yang disambung menjadi tali temali. Mereka sepakat berangkat dalam waktu yang sama dan kembali ke Langsar juga dengan waktu sang sama.

  Akhir dari perjalanan kemduian kembali ke Lansar, ternyata Agung Kemuning berhasil melakukan perjalanannya sampai tiba di goa, sedang sang kakak Agung Marju tak kunjung tiba dalam waktu yang ditentukan. Dan ada saat itulah, Agung Kemuning memohon kepada yang Maha Kuasa, agar kakaknya segera tiba dan selamat sampai di tempat.


  Beberapa waktu kemudian sang kakak di Langsar, Agung Marju bercerita, bahwa perjalanannya banyak mengalami kendala, hal ini disebabkan karena tali yang dirangkai dari batang daun ilalang itu, kerap mengalami putus yang berulang-ulang, sehingga mengalami keterlambatan. Dari pengalaman Agung Marju itu, maka ditempat terjadinya tali dari ilalang yang putus kemudian disambung itu, diabadikan sebagai nama kampung, yaitu Kampung Talabung , yang punya arti tali disambung (tale esambhung, Madura).

  Sedang nama Kandalia sendiri, kerap disebut juga Kandhalia atau Mandhalia, dimaksudkan bahwa di tempat atau goa tersebut pernah terjadi perbincangan antara Agung Marju dan Agung Kemudian, yang bermakna pernah terjadi perbincangan keduanya, yaitu kandha atau akandha yang menurut bahasa Madura berarti perbincangan atau pembicaraan.

  Dari peristiwa tersebut, sang kakak akhirnya meminta maaf, karena dengan sadar bahwa ilmu yang didapat bukan untuk diadu kemampuannya, karena pemberian dari Yang Maha Kuasa itu tidak boleh disombongkan, tapi harus diamalkan.

  Goa Mandalia tidak beda dengan bentuk goa-goa umumnya. Namun bedanya di goa ini ketika memasuki kedalam ruang, terdapat kuburan yang menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah makam Agung Wali Tanjung yang konon merupakan jelmaan dari Syech Yusuf Talango. Bila masuk lebih kedalam lagi terdapat dua kuburan yaitu asta Agung Patapaan dan Raden Bagus Anom. Konon menurut cerita masyarakat setempat, ketiga kuburan tersebut muncul dengan sendirinya. Mula-mula nampak batu nisan yang bagian atas, selang kurang lebih 20 tahun kemudian, kuburan tersebut nampak jelas seperti bentuk kuburan pada umumnya. Sehingga banyak penduduk sekitar yang berkunjung dan berziarah kesana.


  Menuju Goa Kandalia tidak sulit, lokasi yang terletak di pinggiran Desa Langsar itu, untuk menju arah goa cuma melakukan perjalan 11 km dari kota Sumenep kearah selatan, Kecaman Saronggi, kemudian 5 km kearah timut 6 km ke arah Desa Langsar, wilayah Kecamatan Saronggi.


Sumber:
http://www.lontarmadura.com/menengok-goa-kandalia-langsar-sumenep/

0 komentar:

Posting Komentar