Berani Bertani


Pada Minggu, 23 Juli 207 kami berbincang-bincang dengan seorang tokoh masyarakat. Ialah Tabarani, seorang lulusan prodi Sastra Inggris yang akhirnya berani bertani. Beliau melakukan pola pertanian terintegrasi dan tumpang sari. Di dua petak lahan yang cukup luas, ia mengusahakan berbagai tanaman. Seperti cabai merah besar, cabai rawit, daun bawang, kacang tanah dan srikaya.

Ini adalah sebuah langkah berani yang diambil Tabarani mengingat di Langsar sangat sulit mendapatkan air bersih karena tidak ada sumber air maupun sumur. Kendala ini tidak menjadikan Tabarani berhenti meneruskan mimpinya; bermafaat bagi masyarakat Langsar. Karena dengan bertani, Tabarani dapat memperoleh keuntungan usaha dalam bidang pertanian secara profit-benefit dan keterlibatan masyarakat luas. Selai  itu, beliau telah menciptakan lapangan pekerjaan dalam bidang pertanian  dan membangun minat generasi muda dalam aktivitas kewirausahaan sosial. Tabarani juga memberikan pemahaman kepada khalayak umum tentang konsep pemanfaatan lahan tidur.

Berani bertani adalah hal yang perlu digarisbawahi mengingat Negara Indonesia adalah Negara agraris. Selain itu, langkah yang diambil Tabarani diharapkan mampu mengingatkan para pemuda Indonesia yang selama ini gengsi untuk bertani sekaligus berwirausaha. Karena dengan keduanya, tidak hanya Tabarani dan masyarakat Langsar yang akan diuntungkan. Melainkan perekonomian Negara juga akan bertumbuh karena kemandirian yang dilakukan masyarakat yang bertani sekaligus berwirausaha.

Tabarani memang bukan pelopor bertani dengan pola pertanian terintegrasi di Langsar. Ada seorang lelaki paruh baya, ialah Pak Dar yang telah lebih dulu memprakarsai kegiatan tersebut. Tanaman yang dibudiyakan Pak Dar hampir tidak terhitung. Di sekitar rumah beliau memang akan sulit kita temui lahan tidur karena hamper semua sisi dimanfaatkan sebaik mungkin. Inilah yang pada akhirnya mengispirasi banyak warga yang ada di Langsar, salah satunya seorang pemuda bernama Tabarani.

0 komentar:

Posting Komentar