Masyarakat Langsar Lestarikan Budaya Karapan Sapi


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari beberapa unsur seperti agama, politik, tradisi/adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Oleh karenanya, budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. 

Salah satu budaya yang dimiliki masyarakat di pulau Madura adalah tradisi karapan sapi. Karapan sapi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perlombaan pacuan yang berasal dari Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan memgendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sejauh kisaran 100 meter. 

Pada umumnya, beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi setiap tahun pada bulan Agustus dan September seperti yang dilakukan hari ini (8/8/2017) di Desa Langsar, Saronggi, Sumenep. Perlombaan ini dilakukan untuk memeriahkan HUT (Hari Ulang Tahun) RI ke-72. Tempatnya di sebuah lahan kering kosong yang tidak jauh dari kediaman Kades Langsar.

Peserta karapan sapi tidak hanya berasal dari Desa Langsar, namun juga desa-desa tetangga. Begitu pula penonton yang ikut menghadiri acara ini. Acara tersebut dimulai dengan kontes sapi sono’ yang diiringi dengan kesenian tradisional, yakni saronen. Masyarakat begitu antusias menyaksikan kemeriahan acara yang telah membudaya itu dilihat dari banyaknya penonton yang hadir. Ini berarti besarnya antusiasme masyarakat Langsar—khususnya—untuk melestarikan budaya karapan sapi yang tidak bisa dipisahkan dari Madura.

0 komentar:

Posting Komentar